Diduga Ada yang Janggal di Proyek Tanggap Darurat BWSS V Padang
Gema7.com, Sumbar___ Pelaksanaan proyek tanggap darurat berupa pemasangan batu beronjong di aliran Sungai Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, yang dilaksanakan oleh PT Nindya Karya, patut dipertanyakan. Sejumlah kejanggalan ditemukan di lapangan, sementara pihak terkait dari Balai Wilayah Sungai Sumatera V Padang (BWSS V) terkesan saling lempar tanggung jawab saat dikonfirmasi.
Kasatker Operasional dan Pemeliharaan (OP) BWSS V, Syatriawan, saat dihubungi Gema7.com melalui pesan WhatsApp, belum memberikan penjelasan substansial terkait proyek tersebut. Ia justru mengarahkan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) OP 2. Bahkan, Syatriawan secara langsung mengirimkan nomor telepon PPK kepada Gema7.com untuk mempermudah komunikasi.
Namun hingga berita ini ditayangkan, PPK Op belum memberikan jawaban. Sejumlah pertanyaan konfirmasi yang dikirimkan Gema7.com terkait teknis dan administratif proyek tidak mendapat respons sama sekali.
Dengan banyaknya bencana yang melanda Sumbar berkemungkinan PPK dalam masa perbaikan di beberap titik bencana yang melanda Sumatera Barat.
Hasil penelusuran Gema7.com di lokasi pekerjaan menemukan berbagai kejanggalan yang patut dipertanyakan kepada pemilik proyek, dalam hal ini BWSS V Padang. Di antaranya, tidak ditemukannya plang proyek di sekitar lokasi pekerjaan. Padahal, keberadaan papan informasi proyek merupakan kewajiban sebagai bentuk keterbukaan informasi publik, termasuk memuat nilai anggaran, sumber dana, pelaksana, serta waktu pelaksanaan pekerjaan.
Selain itu, metode pemasangan batu beronjong di lapangan juga menimbulkan tanda tanya. Batu beronjong terlihat disusun menggunakan alat berat secara langsung tanpa penyusunan manual oleh tenaga kerja. Praktik ini dikhawatirkan berdampak pada kualitas dan kekuatan struktur beronjong, mengingat pekerjaan pasangan batu beronjong umumnya membutuhkan ketelitian dan penyusunan manual agar material tersusun rapat dan stabil.
Sumber material batu yang digunakan juga menjadi sorotan. Batu terlihat berasal dari material sekitar aliran sungai, namun tidak jelas apakah material tersebut telah melalui pengujian teknis dan mendapat persetujuan sesuai spesifikasi kontrak.
Begitu pula dengan sumber bahan bakar minyak (BBM) solar industri yang digunakan untuk alat berat, yang hingga kini belum diketahui asal-usul dan legalitas penggunaannya.
Tak hanya itu, nilai pekerjaan serta waktu pelaksanaan proyek juga menjadi pertanyaan besar. Tanpa plang proyek yang tidak kelihatan pada lokasi pekerjaan yang sedang berjalan, sehingga publik tidak memperoleh informasi apakah pekerjaan ini benar-benar berstatus tanggap darurat, berapa besar anggaran yang digelontorkan, serta berapa lama durasi pekerjaan yang direncanakan.
Sebagai proyek yang menggunakan uang negara, seharusnya pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara terbuka, akuntabel, dan dapat diawasi publik.Dengan tidak ditemukan tim teknis dilapangan justru memunculkan kecurigaan dan membuka ruang dugaan adanya penyimpangan dalam pelaksanaan proyek.
Diberitakan sebelumnya, Pelaksana Lapangan PT Nindya Karya, Deseven, dikonfirmasikan media ini dilokasi perkerjaan tersebut Rabu (11/2/2206) mengaku pekerjaan yang dilaksanakan adalah proyek tanggap darurat milik BWSS V.
“Volume batu yang akan dipasang sekitar 3.000 kubik, dan memang dalam pelaksanaan kita menggunakan material batu dilokasi pekerjaan,” ujar Deseven.
terkait BBM Solar untuk untuk operasional alat berat excavator, Deseven menjelaskan bahwa excavator menggunakan solar industri yang dikirim langsung dari Kota Padang.
“BBM Solar Industri diantar menggunakan mobil tangki dan langsung diisi penuh ke alat berat. Biasanya dua hari sekali mobil tangki datang, jadi memang tidak ada penampungan BBM di lokasi proyek,” jelasnya.
Saat disinggung mengenai minimnya penggunaan APD oleh para pekerja, Deseven hanya mengangguk dan menyatakan akan segera memerintahkan pekerja untuk menggunakan perlengkapan keselamatan.
Gema7.com akan terus berupaya melakukan konfirmasi lanjutan kepada pihak BWSS V, PPK OP 2, maupun instansi terkait lainnya guna memastikan proyek ini berjalan sesuai aturan dan spesifikasi.
#Md









